“ Bu, yang di samping juga di bersihkan..?” aku dengar langkah kaki Lek Yanto mendekat.
Aku melihat jam di dinding menunjukkan pukul 10.30 wib
“Iya Lek.., sama yang di dekat got itu juga ya..” jawabku,
kembali aku meneruskan kegiatan rutin pagi ini , yaitu memasak, sebelumnya mah tadi udah kejar-kejaran juga untuk mandiin Rere anak bungsuku yang berumur 3 tahun.
Tak lama kemudian aku mendengar suara ranting-ranting pohon blimbingku di tebas, memang sudah terlalu rimbun dan karena musim kemarau sekarang ini, banyak sekali daun – daun belimbing itu berjatuhan dan sangat mengotori halaman rumahku. Makanya aku putuskan untuk mengurangi ranting- rantingnya.
Sambil aku mengoreng ikan dan membuat sayur untuk makan siang ini, aku buatkan teh dingin untuk menemaninya bekerja , tak lupa sebagai teman minumnya aku sediakan pisang goreng.
Aku memperhatikan dari kejauhan, dia sedang membabat tanaman yang ada di pinggiran got, mencabuti rumput yang sudah mulai agak meninggi dan sesekali menyeka mukanya yang penuh dengan peluh. Badannya yang terlihat ringkih itu terbalut pakaian yang agak lusuh, bersemangat sekali bekerja tanpa mengenal lelah.
*********
Sebenarnya tak tega aku memperkerjakan dia, tapi selalu saja aku tak pernah bisa menolaknya jika dia meminta supaya di pekerjakan.
“ kerja apa aja bu.., yang penting saya dapet uang ” ucapannya selalu terngiang di telingaku.
Umurnya masih sekitar 45 tahun, tapi wajahnya terlihat seperti yang 10 tahun lebih tua, kuyu dan keriput mulai terlihat dimana mana.
Aslinya dari madiun jawa Timur, yang pada tahun sekitar 1990 dia dan suaminya merantau ke Sumatra ini untuk mengubah nasibnya. Awalnya mereka merantau ke Lampung dan mereka hanya bertahan 3 tahun, setelah itu kembali mereka berpindah tempat karena katanya tidak ada perubahan untuk hidupnya. Pada tahun 1998 mereka sampai di Lahat ini, walaupun dengan keadaan yang sama, merekapun akhirnya memutuskan untuk menetap di Lahat.
“ mungkin memang kami di takdirkan untuk selalu kekurangan ya bu…” terdengar dia menguman.
Mereka mempunyai 4 orang anak, 3 perempuan dan 1 laki-laki Rumah kontrakannya tak jauh dari asrama yang aku tinggali ini, kurang lebih sekitar 1 km pas di belakang asrama.
Jadi kalo memerlukan dia untuk membantu pekerjaanku, tidak pernah sekalipun aku mengalami kesulitan untuk memanggilnya.
Menyapu dan membersihan halaman rumah adalah tugasnya, selain ditempatku ada 6 rumah yang harus dia sapu dan bersihkan setiap harinya. Pagi sekitar jam 6.00 wib aku pasti sudah dengar suara srek, srek sapu lidi di halaman rumahku.
Belum lagi jika ada yang memerlukan dia untuk membantu pekerjaan rumah lainnya, untuk membersihkan rumah, cuci piring dan lain sebagainya. Kalau aku membutuhkan pertolongannya, tak pernah sekalipun aku melihat raut wajahnya cemberut, ataupun terlihat kesal. Seperti untuk hari ini aku minta tolongnya untuk merapikan tanaman dan memotong ranting-ranting pohon yang sudah cukup lebat.
*******
“ Kalo cape istirahat dulu lek..” setengah berteriak aku menghentikan kerjanya.
Aku menuju pintu belakang untuk melihat air teh sudah berkurang atau belum , “Lek, di minum dulu nanti keburu di minum ama semut lo..” sedikit aku bercanda
“ Iya bu..”
di buka caping nya yang selalu menemani dia bekerja untuk mengurangi teriknya sinar matahari pada hari ini, dan duduklah dia bersandar pada tembok rumahku. Peluh di dahi di saput dengan lengan baju lusuhnya, dikipas kipaskan capingnya untuk mengurangi hawa panas tubuhnya.
Sruupputtt…. Aku lihat gelas yang berisi teh manis dingin itu tandas di minumnya. Diambilnya pisang goreng yang sudah dingin.Di kunyah perlahan, begitu dinikmati makanan itu.
“ Udah makan lek.” Tanyaku
“ iya nanti bu.. di selesaikan dulu kerjaan saya ” jawabnya.
Ah..selalu begitu jawabnya, dan akupun bergegas masuk ke dalam rumah, aku siapkan piring dan perlengkapannya.Karena waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 wib
.
“ lek, abis ini makan siang dulu ya.. baru nanti di teruskan lagi kerjanya ” aku sedikit memaksanya untuk makan siang di rumahku.
“ inggih bu, matur nuwun ” dijawab dengan dialek bahasa jawa nya masih kental sekali.
“ Ibu nggak makan ?” terlihat penuh mulutnya dan agak susah untuk bicara.
“ enggak Lek, nanti aja biar sekalian nunggu bapak “ kataku
*******
Kami biasa memanggil dia Lek Yanto, bukan nama sebenarnya sih. Yanto adalah nama anak bungsunya yang sangat di sayanginya, sekarang statusnya masih pelajar kelas 1 SMA. Anak lelaki yang ditunggu- tunggu dan begitu di harapkan kehadirannya. Sedangkan 3 anak perempuannya, yang pertama sudah menikah dan tinggal dengan suaminya di Muara enim yang letaknya kurang lebih menempuh waktu 1 jam dari kota Lahat. Anak ke 2 masih lajang dan telah bekerja sebagai penjaga toko kelontong di pasar. Anak ke 3 masih lajang juga dan baru selesai sekolah jadi masih nganggur, sambil nunggu lamaran kerja dia membantu orang tuanya untuk berjualan gorengan pada sore hari.
“ suami saya jaga sapi orang bu..” ketika aku bertanya suaminya kerja di mana.
“ jadi ya suami saya yang ngurusin semuanya, dari makan minum sampe kesehatan si sapi ‘’“ bersyukur aja bu, karena masih ada orang yang mempercayai kami ”
“ kami besyukur juga bu, anak-anak hingga saat ini sehat walaupun kami makan juga tidak 4 sehat 5 sempurna “
“Yang bersyukurnya, kami bisa menyekolahkan anak-anak bu..” Tersentak aku mendengar penjelasannya ketika aku bertanya, “ apakah dengan uang yang segitu, cukup bisa bertahan hidup ?”
“ dan kami yakin kok bu, jika kita tidak berhenti berusaha Tuhan pasti membuka jalan ”
Kami ngobrol sedikit tentang keluarganya, bagaimana dia dan suami kerja banting tulang guna menghidupi ke 4 anaknya. Aku begitu kagum untuk kegigihan dia menjalani hidup.Tidak pernah sekalipun dia mengeluh tentang kehidupannya, walaupun aku menilai sungguh sangat berat menjalani hidup seperti itu.Seandainya aku ada pada posisi dia, apakah aku akan sekuat dia ? setegar dia ?Kok jadi malu pada diri sendiri ya…Kadang aku kok ya masih aja ngedumel kalo pertengahan bulan uang gaji sudah kembang kempis ? Dan selalu merasa uang gaji dari suami kok kurang terus… ( Padahal mungkin akunya yang kurang bisa me manage keuangan )
Hiks..hiks… beneran malu deh..Padahal selama ini aku tuh selalu merasa orang yang menderita banget. Serba susah…Nggak punya ini, nggak punya itu…kurang ini, kurang itu...ternyata masih ada orang yang lebih susah dariku , dan dia masih bisa bilang “ Bersyukur ” fuih..h…h.. saya mendapat teguran langsung dari Tuhan hari ini.
“ Bu..” aku mendengar panggilan dan buyar sudah lamunanku.
“ saya pamit dulu ya, tinggal sedikit lagi yang di belakang rumah dan besok saya lanjutkan lagi “
“ iya lek” jawabku sambil bangkit dari tempat dudukku.
“ Terima kasih ya Lek “
“ sama- sama bu ” lagi-lagi aku lihat senyumnya mengembang.
Aku lihat dia berjalan sambil membawa cangkul kecilnya, kemudian berlalu dan menghilang ketika sampai di ujung jalan.Tuhan, Terima kasih untuk pelajaran yang aku dapat hari ini. Pelajaran berharga bagaimana kita harus dapat menghargai hidup, bahwa kita harus bersyukur untuk semua yang Tuhan berikan kepada kita. Ternyata hidup itu indah jika kita selalu bersyukur.
* TUHAN memberi pelangi di setiap badai,
memberi senyuman di seiap air mata,
memberi berkat di setiap cobaan.
Ada lagu di setiap helaan nafas
Ada jawaban di setiap Doa
karena itu,
Bersyukurlah padaNya di setiap waktu * ( Endas Siswanto )
Lahat, 02 Juni 2009
Rabu, 29 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar